Things that better left unsaid
Banyak orang bilang “kenyataan yang pahit lebih baik daripada kebohongan yang manis”. Saya juga termasuk yang berpikir kayak gitu. Buat saya lebih baik orang jujur sama saya walaupun menyakitkan daripada orang baik2 sama saya tapi ternyata menyembunyikan sesuatu.
Kenyataannya? Ga semua orang yang bilang kayak gitu bener-bener mau atau siap ngeliat kenyataan. Pada dasarnya orang hanya mau mendengar apa yang dia ingin dengar, kan?
Saya sering denger cerita-cerita tentang pertengkaran rumah tangga yang disebabkan oleh perselingkuhan. Jangankan itu, saya sering nonton film yang isinya orang selingkuh terus hubungan romantisnya jadi acak-acakan. Tapi kalo diliat-liat lagi, bukan selingkuhnya ternyata yang memicu pasangan untuk bertengkar lalu berpisah, tapi keputusan si pelaku (yang pernah selingkuh) untuk bilang ke pasangannya bahwa dia pernah selingkuh.
Jadi, break down masalahnya kayak gini:
Kasus: ada orang selingkuh, trus dia sadar bahwa selingkuh itu salah, trus dia berhenti dan berubah.
Pertanyaannya: apakah sebaiknya dia jujur sama pasangannya bahwa dia selingkuh atau tidak?
Pilihan 1: dia diam dan keadaan akan tetap baik-baik saja. Selingkuhnya hanya dia, teman selingkuh, dan Tuhan yang tahu. Resiko? dihantui perasaan bersalah dan waswas..
Pilihan 2: dia jujur dan…. dia akan dimaki-maki (okelah dia dimaki-maki, dia emang salah udah pernah selingkuh), lalu dia akan dicap tukang selingkuh (padahal dia cuma selingkuh 1x, tapi hey, jatuh nila setitik rusak susu sebelanga kan?), lalu pait-paitnya dia ditinggalin (baca: diputusin atau diceraiin)
Fakta: Selingkuh itu salah
Pertanyaan kedua: jadi, dia dihukum karena pernah selingkuh, atau karena jujur-insyaf-tobat-dan ngaku bahwa dia pernah khilaf selingkuh??
Renungan: orang sering disuruh mengakui kesalahan, untuk kemudian dihukum. lalu dimana penghargaan untuk perilaku mengakui kesalahan secara sadar? bahwa lalu orang tersebut menyadari kesalahannya -yang udah lewat, yang bahkan kalo ga diceritain mungkin ga ada orang yang tau?
Peribahasanya kan “jatuh nila setitik rusak susu sebelanga”. mungkin peribahasa itu perlu diubah sedikit:
(kalo ketauan) jatuh nila setitik rusak susu sebelanga.
atau
(kalo dibilang) jatuh nila setitik rusak susu sebelanga.
Karena kayaknya, kalo ga ada yang tau ato ga ada yang bilang bahwa ada nila jatuh setitik ke belanga susu, ga bakalan ada yang nyadar tuh kalo susunya kenapa-kenapa…
Kesimpulan akhir: lepas dari “kenyataan yang menyakitkan lebih baik daripada kebohongan yang manis”, toh sepertinya memang ada hal-hal yang sebaiknya tidak dikatakan. Biarkan kesalahan-kesalahan itu diketahui hanya oleh kamu dan tuhan. Yang penting, kamu tahu kamu salah, kamu sadar kamu khilaf, dan kamu yakin kamu tidak akan mengulanginya lagi.
Dan hey, percaya deh, hampir sebagian besar kasus kebakaran bermula dari main api.. if you know what i mean…
)