TERSESAT -Part I

February 9, 2011 at 8:02 pm (Terjadi oh terjadi) (, , , , )

Tadi baru bersih-bersih apin*, dan nemu file ini di folder curhat-bawel saya. Ini tulisan saya waktu saya baru mulai pragil –praktek gila, sekitar bulan Juni tahun lalu.. Ga tau juga yaa kenapa waktu itu ga jadi diposting (mungkin takut kebaca pihak-pihak bersangkutan, hmmyaya serem aja gitu..). Setelah dibaca-baca lagi, kayaknya sekarang gapapa deh diposting, udah lewat juga si pragil itu (ohwaaaww AKHIRNYA lewat juga!). Jadi, inilah cerita tentang tersesat periode pertama saya..

* apin = nama lepito saya, singkatan dari ‘apel pintar’. Disebut pintar karena dia udah menyandang tiga gelar dan akan empat: M.M., S.Psi., S.E., dan sebentar lagi (SEBENTAR LAGI, AAMIN!!) M.Psi., Psikolog.. Dari urutan gelarnya bisa diketahui bahwa apin adalah lungsuran bapak saya, hehehe..

—————————————————————————————————————————

TERSESAT

Bukan, ini bukan cerita tentang saya tersesat di jalanan ibu kota.

Ini cerita tentang bagaimana saya merasa hilang arah dalam periode kerja praktek semester tiga ini.

Institusi pertama saya untuk kerja praktek adalah sebuah panti rehabilitasi narkoba.

Secara jarak, institusi ini lokasinya paling jauh dari sepuluh institusi lain: luar Jakarta.

Secara jumlah, saya cuma berdua praktek di institusi ini, yang lain ada yang bertiga, berempat, atau seenggaknya di kota yang sama ada beberapa orang.

Secara rumor, institusi ini paling menegangkan buat orang-orang, karena tipikal kepribadian klien yang cenderung manipulatif dan persuasif (ditambah tampang dan kantong yang super mendukung, selalu ada warning dari fakultas untuk TIDAK JATUH CINTA sama klien).

Ditambah, cuma di institusi ini para magang-ers diharuskan membuat pelatihan di akhir periode.

Jackpotnya? Saya dan teman saya dibimbing oleh dua orang pembimbing yang terhitung paling killer di fakultas (tapi turns out bahwa pembimbing teman saya itu ternyata kalo bimbingan pribadi super baik dan jelas). Pembimbing saya? turns out bahwa ternyata saya tidak perlu bertegang-tegang ria ketemu doi, karena ternyata.. dia tidak mau membimbing saya (HO…re..?? *angkat tangan setengah mau bersorak tapi gak jadi*).

Yups, my first institution, my first professional client, and i’m on my own. Literally.

Pertama kali dapet kasus nyata dimana klien saya mengalami kejadian yang membuat supertrauma -bikin bergidik waktu denger (namanya juga institusi pertamaa), nangis-nangis, marah sampe pengen ngebunuh orang, crying for help in disguise, dan saya bingung. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan untuk menolong. Saya perlu dan merasa harus bertanya tapi tidak ada tempat bertanya, Saya merasa tersesat. Saya marah.

Bagi saya, bukan masalah saya tidak dibimbing menulis laporan. Bagi saya, bukan masalah kalau ternyata nanti nilai saya tidak memuaskan. Bagi saya, bukan masalah sama sekali dampaknya ke akademis saya. Yang jadi masalah adalah, saya merasa klien saya tidak mendapatkan hak-haknya. Buat saya, tidak adanya pembimbing yang membimbing saya merupakan salah satu bentuk malpraktek untuk klien saya. Tapi siapa saya untuk bisa protes? Saya cuma mahasiswa, yang harus tunduk pada sistem, yang bahkan tidak memiliki bargaining position di dalam fakultas.

Memasuki institusi kedua saya, saya mendapatkan pembimbing yang saya kira baik, tapi super-sibuk. Terlalu sibuk malahan. Saya yang sedang euphoria karena merasa akhirnya bisa keluar dari ketersesatan saya, langsung merasa down begitu ternyata pembimbing saya mendeklarasikan untuk saya tidak menelpon, tidak mencari ke ruangan, istilahnya tidak mengejar-ngejar dia. Saya tidak bermaksud mengejar, saya hanya ingin tahu kapan saya bisa bimbingan. Saya sms tidak dibalas, saya datang saya diomeli. Akhirnya saya hanya disuruh menunggu sms dari beliau -yang hampir seminggu tidak ada. Dan klien saya tidak datang lagi. Dan saya tidak bisa meminta klien lain tanpa persetujuan pembimbing. Dan saya kembali tersesat.

Saya masih berusaha percaya bahwa dibalik semua kesulitan akan datang kemudahan.

Saya memang tersesat, tapi jalan keluar itu pasti ada, kan? Saya hanya perlu terus mencari.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 200 other followers