I’m (Not) in Love
Commitment..
Yea, looks like I have problems with that.
Don’t go too far with associating this ‘commitment’ word with the word ‘marriage’.
Just think of it such as a simple relationship between two human being that end up saying that “he’s my boyfriend” and “she’s my girlfriend”. That kind of commitment.
See, I have this thought:
I was once falling in love –madly- with.. say: mr. X
I –or should I say: We – were deeply falling in love with each other that we planned to get married right after we graduate.
That feeling last for two years, before suddenly: ZAP –it disappeared.
And despite of me leaving him for the greatest good, but it did feels hurt:
It was hurt to realize how you lost your feeling to someone you loved so much.
It was hurt to realize that you have hurted someone you loved so much
And it was hurt to know that not only you lost someone you loved, but you also going to lose your very bestfriend. Yes, he refused to be my friend.
See the point?
- I have once love someone THAT much –oh yes, THAT much!
- Two years later, I didn’t love him that much
- Three years later it was over.
So how could I ever believe in love again?
If I love someone today, who can guarantee that I would still love him tomorrow?
Or a month later? Or the next year??
Who can guarantee that He would still in love with me next week? Next month?
Or simply just tomorrow??
NOBODY
Then why, should I make a commitment for being together, if nobody can guarantee that our feeling –the most basic bond in a relationship- would last forever?
Then we come out to this very last question:
“ Why do people get married?”
I said: Because we’re insane and we’re seeking for sanity.
See? I’m not against marital at all.
I’m just saying, we are all feel incomplete, and hoping that our spouse can make us feel a whole: completed.
I said: It doesn’t need love. Or a declaration. It just fit. And I know I’ll know my other piece when it comes.
And it will come. Maybe now is just not the time.
And there goes the life span development….
Bakar buku.
Bukan, bukan sebagai bentuk aksi vandalisme setelah lulus kuliah.
Dalam arti kata sebenarnya: hari ini gw membakar buku-buku kuliah gw.
Life Span Development edisi 1 dan 2, psikologi klinis, modul-modul Rorschach gw, modul-modul tes grafis gw, buku Mrs. Doubtfire gw, serial Torey Hayden gw, and more..
Rayap sialan.

Alive,again.
Since i’m now a jobseeker who has plenty time 2 do nothing, i decided to re-awake my blog. So here it is, ’satu titik’ is alive,again.
Stuck in A Moment
Gw sering merenung, dan akhir-akhir ini renungan gw naik tingkat menjadi suatu kegalauan. Yang tadinya hanya sebuah renungan –direnungkan sambil melamun, sekarang jadi beban pikiran –pikiran yang membebani.
Gw sudah hidup 22 tahun. Apa yang sudah gw lakukan selama 22 tahun ini? Apa yang sedang gw lakukan di masa sekarang yang bisa memberikan kontribusi pada –minimal, keluarga gw? Pada teman-teman gw? Pada lingkungan sekitar gw? Pada negara gw?
Krisis Dewasa Dini
Mungkin itu yang sekarang terjadi sama gue. Gue yang waktu sma punya gambaran tentang diri gw dimasa depan, yang punya clear vision, punya cita-cita.. Sekarang –4 tahun kemudian dari masa itu, semua visi, gambaran dan cita-cita itu tidak tampak semakin dekat, malah sepertinya semakin bias, blur, semakin membingungkan.
Siapa gw? Gw pikir gw tau jawabannya. Ini bukan pertanyaan dalam konteks apakah gw mengenal diri gw sendiri atau tidak. Ini pertanyaan dalam konteks siapa gw sekarang sebagai seorang individu, peranan gw dalam masyarakat. Dan ternyata, setelah gw pikir-pikir, gw BUKAN SIAPA-SIAPA. Belum jadi siapa-siapa. Dan sekarang, gw tampak semakin tidak tahu: akan jadi siapa gw??
22 tahun dan belum lulus.
22 tahun dan belum bekerja.
22 tahun dan belum punya bisnis usaha.
22 tahun dan belum bisa lepas dari tanggungan orang tua.
22 tahun dan stuck.
Gw stuck.
And it feels like forever.
Mungkin ini cuman satu hari dari satu bulan dimana kabut turun dan menutupi semua yang ada di depan gw. Menutupi semua pandangan gw. Gw hilang arah. Gw tidak bisa melihat jalan gw.
Takut. Orang takut dengan apa yang tidak terlihat. Orang merasa tidak aman
Tapi kalau gw memberanikan diri –atau memaksa diri, untuk mengambil satu langkah saja ke depan, mungkin yang tak terlihat bisa jadi terlihat, dan gw menjadi tidak terlalu takut.
Mungkin sebenarnya semua yang gw mau ada di tepat di depan gw, hanya gw belum bisa melihatnya. Tapi mungkin kalau gw berusaha maju selangkah ke depan, apa yang tidak terlihat itu bisa gw sentuh.
Jadi yang bisa gw lakukan adalah berusaha terus maju.
Gw harus terus mendorong diri gw sendiri untuk berani melangkah –satu langkah ke depan, sampai yang tak terlihat itu menjadi terlihat.
Satu lagi, satu langkah ke depan lagi.
Kalaupun gw sudah melangkah dan belum tersentuh, gw harus yakin bahwa satu langkah kemudian gw akan sampai.
“The sun will come out tomorrow,
so you gotta hang on till tomorrow,
come what may..
Tomorrow, it’s only a day away…”
Gw harus terus bertahan
Gw harus bisa bertahan
Gw harus yakin, bahwa sebentar lagi kabut itu akan hilang
Pasti.
Makan Galau
Makan galau adalah suatu rutinitas yang biasa gw lakukan ketika sedang galau. Mengingat gw adalah seorang wanita dengan lambung 2, maka ketika pms menyerang dan galau melanda, yang gw lakukan adalah makan, makan, dan makan. Dan aktivitas makan tersebut gw beri nama: Makan Galau.
Makan Galau berbeda dengan makan-makan lainnya. Tujuannya saja adalah mengusir galau. Tidak heran kalau aktivitas ini pun akhirnya dilakukan di tempat-tempat istimewa (baca: mahal), dengan porsi kuli yang bisa membuat perut ke-kenyangan, dan memberikan kepuasan tersendiri.
Makan Galau bisa dilakukan sendirian, atau bersama teman yang juga sedang galau. Hati-hati ketika makan galau! Walaupun makan galau memang menguras budget, tapi jangan sampai over-budget, karena bisa menyebabkan kegalauan lain: kere.
Alternatif Tempat Makan Galau Gw:
- SUshi-tei
- Amarillo Cafe (yang sekarang udah ga ada, hiks!)
- Cizz (belinya harus truffle torte -si coklat eneg gila itu, tapi kalau lagi galau pas lah!)
- Semua rumah makan yang All You Can Eat
- atau……. wisata kuliner sepanjang hari, jadi walopun murah-murah tau-tau duit udah abis aja.
- Minumnya harus quickly
- Es-krim Rasa di Naripan, belinya minimal 3 baru lepas deh galaunya..
- Kalau galaunya pas lagi ga da duit, yaahhh minimal beli coklat Mars aja dah telen bulet-bulet!
Hmmm… lagi galau berkepanjangan nih gw, siapa mau nemenin makan galau??
Ruang Waktu
Kata big boss (hehehe, big dalam arti kata sebenernya ini mah, ya pak?) gw, kita tuh sebagai manusia2 unggul harus bisa menguasai ruang dan waktu.
artinya, dimanapun kita berada, sejauh apapun, seterpencil apapun, kita harus bisa menancapkan ketidakhadiran kita di suatu tempat dengan keberadaan kita, maya sekalipun. Maksudnya, jadi, (hahaha, berbelit-belit banget yak) kita harus bisa bikin diri kita itu ngangenin (cuih..). Jadi ketika kita ngga ada, orang-orang akan selalu inget kita.
ciri-ciri orang yang menguasai ruang dan waktu: pas dia ngga ada kita denger orang bilang “wah, coba si anu ada ya..” atau “wah, kalo si anu ada pasti dia bilang bla bla bla ya” atau yang paling simpel “si anu kemana sih?”. nah itu berarti yang namanya “si Anu” udah menguasai ruang dan waktu.
Gimana caranya supaya bisa menguasai ruang dan waktu? kita harus menancapkan kehadiran kita setiap saat pada setiap orang. cara paling gampang: nelpon dan sms. Yak, itu teknologi canggih yang semakin hari makin dangkal penggunaannya. buat gosipin orang yang ga kita kenal lah, buat ngobrol berjam-jam sama temen yang sebenernya tiap hari kita ketemu lah, dan hal-hal ga penting lainnya. harusnya fasilitas itu bisa kita gunain buat nyambung silaturahmi yang udah keputus, mempertahankan hubungan dengan teman lama, teman kerja, teman dapet kenalan (haha!), daaaaaan lainnya lagi.
hmmm, ngomong emang gampang, tapi gw pribadi, sebagai orang yang sangat-sangat tidak addict sama hp, rada susah. Males nelpon kalo ngga penting, apalagi sms. jadi kalau buat gw, sebelum menancapkan kehadiran, gw harus membiasakan diri untuk ‘butuh’ sama hp.
Buat yang lain?
UHU! skripsi..
skripsi..
kalo yang namanya bimbingan tuh kan si mahasiswa dapet masukan dari pembimbing yak?
si pembimbing menerangkan apa yang mahasiswa tersebut tidak mengerti, kan?
trus, kalo si pembimbing justru ngga ngerti SECUIL pun tentang apa yang dikerjain mahasiswa bimbingannya,
buat apa dong si mahasiswa bimbingan sama dia??
hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh…
stuck in a moment
by the way,,
skripsi gw judulnya “pengaruh public value terhadap institutional image, studi kasus pada dinas-dinas pemerintahan di kota bandung”.
ada yang bisa ‘membimbing’ gue?
1200 orang
Family gathering 1200 orang
1200 orang dikumpulin?
huhehehe,sebenernya ngga kebayang.
kayak semut kali ya?
1200 orang??
pyuuuhhhhh!
Kabita..
hahaha, bukan, ini bukan kabita as sebuah nama yg imut-imut kayak tabitha, dll gitu,,
ini kabita, kata dalam bahasa sunda yg artinya.. mm.. kepengen..
mm, bukan kepengen juga sih, mungkin lebih tepat kayak.. jadi kepengen.
yap, ada ‘jadi’-nya
gw ngeliat eka lagi ngetik-ngetik blognya gitu, trus gw jadi kabita.
jadi kepengen nulis-nulis blog juga, hyehehehe..
apakah blog ini akan bertahan?
atau nasibnya sama seperti blog di fs gw yg akhirnya ga disentuh-sentuh?
atau bahkan kayak diary jaman sd yang dibeli krn lucu (kabita juga) dan trus cuman diisi halaman pertama.
mudah-mudahan engga…
hye!